Skip to main content

Posts

𝐅𝐞𝐧𝐨𝐦𝐞𝐧𝐚 𝐏𝐚𝐬𝐢𝐞𝐧 𝐓𝐞𝐫𝐩𝐞𝐧𝐭𝐚𝐥 𝐒𝐚𝐚𝐭 𝐑𝐮𝐪𝐲𝐚𝐡: 𝐀𝐧𝐭𝐚𝐫𝐚 𝐑𝐮𝐡𝐚𝐧𝐢, 𝐏𝐬𝐢𝐤𝐨𝐥𝐨𝐠𝐢 𝐝𝐚𝐧 𝐈𝐥𝐦𝐮 𝐇𝐲𝐩𝐧𝐨𝐬𝐢𝐬

(Ibnu Abdillah Al-Katibiy, 04 Juni 2025) Beberapa praktisi sering bertanya kepada saya: "Kenapa pasien yang frontal dan ekstrem menyerang kyai justru terpental? Apakah karena kyai memiliki khodam atau tenaga dalam?" Sebenarnya, pertanyaan ini sudah saya jawab berulang kali dalam pelatihan-pelatihan, bahkan saat tampil di program Ruqyah Nabawiyah di TV Al-Wafa tiga tahun lalu. Namun agar lebih luas dan sistematis, izinkan saya menjelaskannya kembali secara tertulis. Simak sambil ngopi... Fenomena pasien yang terpental, terguling, atau bereaksi keras saat hendak menyerang praktisi ruqyah seringkali menimbulkan banyak spekulasi, baik dalam dunia spiritual Islam maupun psikologi modern. Benarkah praktisi memiliki khodam atau tenaga dalam? Atau adakah penjelasan lain yang lebih ilmiah dan ruhiyah? Mari kita bahas. 𝟏. 𝐒𝐮𝐝𝐮𝐭 𝐏𝐚𝐧𝐝𝐚𝐧𝐠 𝐈𝐥𝐦𝐮 𝐓𝐞𝐤𝐡𝐧𝐢𝐤 𝐀𝐥𝐚𝐦 𝐁𝐚𝐰𝐚𝐡 𝐒𝐚𝐝𝐚𝐫 𝐝𝐢𝐬𝐞𝐛𝐮𝐭 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧; 𝗸𝗼𝗻𝗳𝗹𝗶𝗸 𝗶𝗻𝘁𝗿𝗮𝗽𝘀𝗶𝗸𝗶𝘀 yaitu 𝐏𝐞𝐧𝐨𝐥...

Alhikam Maqolah 146

Alhikam Maqolah 146 Syech Ibnu Athoillah dawuh : ١٤٦- مَطَالِعُ الْاَنْوَارِ اَلْقُلُوْبُ وَالْاَسْرَارُ. "Tempat terbitnya cahaya Ilahi adalah hati dan relung batin." -------+++++++ Hati dan sirr-nya para ‘Arifiin itu ibaratnya seperti langit yg menjadi tempat berjuta-juta bintang, bulan dan matahari. Seperti yg sudah diterangkan pada hikmah yg terdahulu bahwa nur yg keluar dari hati ‘Arifin itu lebih terang dibandingkan sinarnya bintang, bulan dan matahari. Sebagian ‘Arifin berkata: “Andaikan Allah membuka Nur hatinya para waliyullah, niscaya cahaya matahari, bulan akan suram (kalah). Sebab cahaya matahari dan bulan bisa tenggelam dan gerhana, sedangkan Nur hati para wali itu tidak bisa tenggelam dan gerhana.” Dalam hadits qudsi, Rasulullah Saw. bersabda, firman Allah Ta’ala: “Tidak cukup untuk-Ku bumi dan langit-Ku, tetapi yg cukup bagi-Ku hanya hati hamba-Ku yg beriman.” Jadi kalau kita tidak mengetahui nurnya ‘Arifin, itu bagian dari belas kasihnya Allah Ta’ala. Syaikh A...

Alhikam Maqolah 145

Alhikam Maqolah 145 Syech Ibnu Athoillah dawuh :    ١٤٥- رُبَّمَا اَفَادَكَ فِيْ ليْلِ الْقَبْضِ مَالَمْ تَسْتَفِدْهُ فِيْ إِشَْرَاقِ نَهَارِ الْبَسْطِ " لاَتَدْرُوْنَ اَيُّهُمْ اَقرَبُ لَكُمْ نَفْعًا " "Boleh jadi Allah memberimu manfaat pada saat malam kesempitan yg tidak kau dapatkan pada saat siang kelapangan. “Kalian tidak mengetahui mana yg lebih bermanfaat bagi kalian,” (QS. An-Nisa’ [4]: 11) ----------++++++++ Dalam hikmah yg lalu telah diterangkan tentang al-qobdhu dan al-basthu, bahwa orang yg diberi kesenangan/kelapangan (basth) yg nafsunya ikut mendapatkan bagiannya, yg terkadang menjadikan sebab terhijab dengan Allah. Berbeda ketika orang yg dalam kondisi susah, sedih hatinya, nafsunya akan lemah dan merasa sangat berhajat kepada Allah, yg menjadikan sebabnya Allah memberikan suatu kenikmatan yg hakiki, yaitu ilmu dan ma’rifat. Sebagaimana diterangkan lagi pada hikmah ini. Sehingga orang² ‘Arif lebih memilih keadaan qobdh daripada basth. Tapi pada umumnya m...

Al-hikam Maqolah 144

Alhikam Maqolah 144 Syech Ibnu Athoillah dawuh : ١٤٤- ِاذَااَرَدْتَ اَنْ يَفْتَحَ لَكَ بَابَ الرَّجَاءِ فَاشْهَدْ مَامِنْهُ اِلَيْكَ، وَاِذَا ارَدْتَ اَنْ يَفْتَحَ لَكَ بَابَ الْخَوْفِ فَاشْهَدْ مَامِنْكَ إلَيْهِ "Jika kau ingin dibukakan pintu roja’/asa/harapan, lihatlah karunia-Nya kepadamu. Namun, jika kau ingin dibukakan pintu khouf/takut, lihatlah amal yg kau persembahkan untuk-Nya." Hikmah ini menjelaskan dua cara untuk bertaqarrub kepada Allah Ta’ala, yaitu: • Roja’ (berharap hanya kepada Allah Ta’ala), caranya: selalu memperhatikan apa yg ada pada dirimu dari nikmat pemberian Allah Ta’ala, macam²nya manfaat yg diberikan kepadamu, dan dihindarkan dari macam²nya bala’ bencana mulai dari kamu dalam kandungan ibumu sampai saat ini. Sehingga hati kamu bisa berharap secara optimis dan husnudzan kepada Allah Ta’ala dan tidak akan putus asa. • Khouf (takut hanya kepada Allah Ta’ala), caranya: selalu memperhatikan apa² dari dirimu tentang kekurangan dan kecuranganmu dalam men...

Al-hikam Maqolah 143

Alhikam Maqolah 143 Syech Ibnu Athoillah dawuh:   ١٤٣- اِذَا وَقَعَ مِنْكَ ذَنْبٌ فَلاَ يَكُنْ سَبَبًا لِيَأْسِكَ مِنْ حُصُوْلِ الْاِسْتِقَامَةِ مَعَ رَبِّكَ فَقَدْ يَكُوْنُ ذَلِكَ اٰخِرُ ذَنْبٍ قُدِرَ عَلَيْكَ. "Jika kau terjatuh pada dosa, janganlah hal itu membuatmu putus asa untuk beristiqamah bersama Tuhanmu karena bisa jadi itulah dosa terakhir yg ditetapkan atasmu." --------++++++++ Engkau jangan putus asa dengan merasa tidak mungkin bisa istiqomah dalam menghamba pada Allah Ta’ala, (sehingga mendorongmu melakukan dosa² yg lainnya) karena engkau terlanjur melakukan dosa. Perbuatan dosa itu tidak menyalahi istiqamah dalam kehambaan, kalau semata-mata terlanjur, dengan tidak ada sifat gembira dalam melakukan dosa itu, sebab manusia tidak mungkin mengelak dari takdir yg telah ditulis baginya. Kewajiban kamu ketika terlanjur berbuat dosa yaitu harus segera bertobat. Syaikh Abdullah asy-Syarqawi menjelaskan : Jika kau melakukan dosa sesuai dengan maqam dan kedudukanmu, hal ...

Al-hikam Maqolah 142

Alhikam Maqolah 142 Syech Ibnu Athoillah dawuh :  ١٤٥- مَتَى كُنْتَ اِذَا اُعْطِيْتَ بَسَطَكَ الْعَطَاءُ وَإِذَا مُنِعْتَ قَبَضَكَ الْمَنْعُ فَاسْتَدِلَّ بِذَالِكَ عَلَى ثُبُوْتِ طُفُوْلِيَّتِكَ وَعَدَمِ صِدْقِكَ. "Apabila kau gembira ketika diberi hadiah oleh-Nya dan kecewa saat ditolak-Nya, simpulkanlah bahwa itu adalah bukti dari kekanak-kanakanmu dan ketidaktulusan penghambaanmu. " ------+++++++ Ketika suasana hatimu masih selalu berubah-ubah ketika menerima kenikmatan atau mendapat balak/ujian. Maka nyata bahwa engkau masih dipengaruhi oleh hawa nafsu, dan belum sungguh² dalam kedudukan kehambaan kepada Allah Ta'ala, dan pengertian terhadap hikmah rahmat Allah terhadap semua makhluk-Nya. Syaikh Abdullah asy-Syarqawi menjelaskan : Itu adalah sikap kekanak-kanakanmu di tengah orang² yang dekat dengan Allah. Maksudnya, kamu masih belum termasuk golongan mereka. Kau hanya ikut-ikutan dalam urusan yg tak layak kau ikuti. Seperti halnya anak² yang tidak memiliki ...

Ringkasan / Peta Konsep pintar membaca kitab

Bagi kaum santri yang ingin mengetahui kedudukan kalimat maka perlu sekali memiliki ringkasan , lembaran di bawah ini yang nanti sangat memudahkan dalam mengetahui kedudukan kalimat dalam ilmu nahwu . Langsung saja inilah lembarannya : Atau klau mau downloud silhkan klik ini

Alhikam Maqolah ke 97

Alhikam Maqolah 97 Syech Ibnu Athoillah dawuh ٩٧- مَتَى أَوْحَشَكَ مِنْ خَلْقِهِ فَا عْلَمْ أَنَّهُ يُرِيْدُ أَنْ يَفْتَحَ لَكَ بَابَ الْأُنْسِ بِهِ “Ketika Alloh meresahkanmu dengan makhlukNya, maka ketahuilah bahwa Dia hendak membukakanmu pintu kemesraan bersama-Nya”. -------+++++++ Melalui nasihat tersebut, kiranya ada satu hal yang perlu kita renungkan. Bahwa di saat kita telah sampai pada titik di mana terdapat sebuah masalah antara kita dengan manusia, yang menyebabkan keresahan di hati kita, di saat yang bersamaan, Allah Swt. sedang membukakan pintu kemesraan-Nya untuk kita.Supaya kita berpaling dari makhluq lalu menghadap kepada Nya. Ini adalah bentuk panggilan Allah Swt. kepada setiap hamba-Nya , untuk kembali kepada Allah Swt. Tidak perlu memperdulikan mengenai hal-hal yang dilakukan oleh mereka. Manfaatkanlah sebaik mungkin kesempatan yang demikian. Yakni saat-saat di mana Allah Swt. membukakan pintu kemesraan-Nya untuk kita, agar kita dapat berkhalwat kepada-Nya ...

Alhikam Maqolah ke 96

Alhikam Maqolah 96 Syech Ibnu Athoillah dawuh : ٩٦- خَيْرُ اَوقاَتِكَ وَقْتٌ تَشْهَدُ فيهِ وُجُودُ فاَقَتِكَ وَتُرَدُّ فيِهِ َاِلٰى وُجُودِ ذِلِّتِكَ "Sebaik-baik waktumu, ialah saat² dimana engkau merasa dan mengakui kefakiran/kebutuhanmu, dan kembali pada adanya kerendahan dirimu." --------++++++ Sebaik-baik waktu dalam masa hidupmu, ialah saat mengingat kepada Allah dan memutuskan hubungan dengan segala sesuatu selain-Nya. Yaitu pada saat merasakan benar² butuh kepada Allah, sedang segala sesuatu yang lainnya tidak dapat membantu meringankan kebutuhanmu. Dan tidak ada pengharapan selain pada Allah. Maka pada saat itu murnilah pengertian tauhidmu kepada Allah. Sehingga kamu memasuki keluasan Tauhid. Ketersediaan Rahmat tanpa batas. Diceritakan: Syaikh 'Atha' as-Sulami selama tujuh hari tidak merasakan makanan sama sekali dan dia tidak bisa berbuat apa², tapi dalam kondisi seperti itu hati Beliau tambah senang, dan berkata (berdoa): “Ya Tuhanku, jika Engkau ...

Alhikam Maqolah 93

Alhikam Maqolah 93 Syech Ibnu Athoillah dawuh : ٩٣- نِعْمَتَانِ مَا خَرَجَ مَوْجُوْدٌ عَنْهُمَا وَلاَ بُدَّ لِكُلِّ مُكَوَّنٍ مِنْهُمَا : نِعْمَةُ الْاِيْجَادِ وَنِعْمَةُ الْاِمْدَادِ. "Ada dua ni'mat yang tak satupun makhluk terlepas darinya, dan setiap ciptaan pasti tersentuh oleh keduanya yaitu ni'mat penciptaan ( dari tidak ada menjadi ada ) dan ni'mat pemberian ( untuk kelangsungan tetap ada )" ------+++++ Ni'mat penciptaan (Al-Ijaad) : Allah menciptakan makhluk yang sebelumnya tidak ada menjadi ada Ni'mat kesinambungan wujud ( Al -Imdaad) : Allah terus menerus mengaruniakan ni'matnya sebagai kelangsungan pemenuhan kebutuhan makhluk untuk bisa tetap ada ( hidup ) Allah menyempurnakan ni'mat – ni'mat penciptaan dan keberlangsungan kewujudan hamba hambaNya. Wujud makhluk dan kesinambungan keberadaan makhluk tergantung pada karunia Allah SWT. dan tak satupun makhluk didunia ini yang bisa lepas dari dua ni'mat tadi ٩٤- أنْعَمَ ...

Alhikam Maqolah 92

Alhikam Maqolah 92 Syech Ibnu Athoillah dawuh : ٩٢- مَعْصِيَةٌ اَوْرَثَتْ ذُلاًّ وَافْتِقَارًا خَيْرٌ مِنْ طَاعَةٍ اَوْرَثَتْ عِزًّا وَاسْتِكْبَارًا “Kemaksiatan yang menyebabkan hina dan butuh kepada Allah itu lebih baik daripada ketaatan yang menyebabkan merasa agung dan sombong” --------+++++++ Sayyid Abdul Abbas Almursi menghormati manusia sesuai kedudukannya di sisi Allah. Terkadang datang kepada beliau orang yang taat namun tidak diperhatikan, tapi terkadang datang kepada beliau orang yang durhaka, namun beliau justru memuliakannya. Ternyata orang taat tadi adalah orang yang selalu menyombongkan amalnya, sementara orang yang durhaka tadi datang dengan segenap dosa-dosanya namun ia merasa hina dihadapan Allah. Dikisahkan dari Ubban bin ‘Iyas, ia bekata suatu hari aku keluar menuju Basroh lalu aku melihat jenazah yang di angkat empat orang dan tidak ada orang lain yang menyertainya. Aku sangat heran sekali kenapa di dekat pasar sebesar Basroh ini jenazah seorang muslim tida...

Alhikam Maqolah 91

Alhikam Maqolah 91 Syech Ibnu Athoillah dawuh : ٩١- رُبَّماَ فَتَحَ لكَ باَبَ الطَّاعةِ وَماَ فَتَحَ لكَ بَابَ القَبُولِ. وَرُبَّمَا قَضىَ عليكَ بالذ َّنْبِ فَكانَ سَبَباً فِي الوُصوُلِ "Terkadang Allah membukakan untukmu pintu ibadah, tetapi belum membukakan pintu kabul (penerimaan), sebagaimana adakalanya ditaqdirkan engkau melakukan dosa, tetapi menjadi sebab wushul (sampaimu) kepada Allah." --------++++++++ Taat itu terkadang dibarengi dengan penyakit hati yg bisa menghilangkan ikhlas, seperti ujub (bangga dengan amalnya dll.), sedangkan dosa itu terkadang di ikuti dengan merasa hina dirinya sendiri dan menganggap baik orang yg tidak melakukannya, dan menjadikan dia meminta ampun kepada Allah sehingga menjadi sebab Allah ampuni dosanya, dan bisa wushul kepada Allah. Abu Hurairah ra. berkata: Rasulullah Saw. Bersabda, “Demi Allah yg jiwaku ada di tanganNya, andaikan kamu tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan singkirkan (mematikan) kamu, dan diganti dengan orang² yg...

Alhikam Maqolah 90

Alhikam Maqolah 90 Syech Ibnu Athoillah dawuh : ٩٠- اِنَّمَا يوُءَلِّمكَ المَنْعُ لِعَدَمِ فَهْمِكَ عَنِ اللهِ فيهِ "Sebab sesungguhnya engkau merasakan pedihnya penolakan Allah kepadamu itu, karena engkau tidak mengerti hikmah rahmat Allah dalam penolakanNya. (tidak memberikan keinginan/harapanmu) itu." ------++++++++ Sebagian dari tanda memahami penolakan (tidak mengabulkan doa) dari Allah yaitu: 1. Kita bisa memahami bahwasanya Allah menghendaki kita menghadap kepada-Nya, selalu bergantung kepada-Nya, dan tanda dikasihi Allah, karena apabila Allah mencintai hamba-Nya maka hamba itu akan di jaga dari kesenangan dunia. 2. Kita bisa memahami bahwasanya Allah akan menapakkan kita ke jalan orang² yang dekat dengan Allah. Seperti kata Syaikh al-Fudhail dalam munajatnya : Ya Tuhanku, Engkau memberi lapar menemaniku dan keluargaku, dan Engkau tidak memberi pakaianku dan keluargaku, yg itu semua biasanya diperuntukkan untuk orang² pilihan, lalu kenapa aku bisa mendapatkan ke...

Alhikam Maqolah 89

Alhikam Maqolah 89 Syech Ibnu Athoillah dawuh : ٨٩- مَتَى أعْطاكَ أَشْهدََكَ برَّهُ. وَمَتَى مَنَعَكَ أَشْهدََكَ قهَرَهُ. فهَوُ فِي كلِّ ذَلِكَ مُتَعَرِّفٌّ إِلَيْكَ وَمُقْبِلٌ بوِجُودِ لُطْفِهِِ علَيْكَ. "Apabila Allah memberikan karunia kepadamu, maka Dia menunjukkan karuniaNya dan belas kasih-Nya, dan apabila Allah menolak pemberian-Nya atasmu, maka Dia menunjukkan kepadamu kekuatan-Nya, maka Dia dalam semua itu memperkenalkan sifatNya kepadamu. dan menghadapkanmu kepada kelembutan kasih sayangNya. Dan pemeliharaan Nya kepadamu." ---------++++++"+++ Kewajiban bagi setiap hamba harus mengenal Tuhannya, dengan segala sifat² kebesaran-Nya. Maka siapa yg tidak mau mengenal dengan sifat Mu'thi Wahhab (pemberi) maka ia harus mau mengenal dengan sifat Mani' (menolak), Muntaqim (membalas), Qohhar (memaksa). Tetapi apabila telah mengenal hikmah Rahmat Allah, maka terasa bahwa semua itu semata-mata anugerah dari Allah kepada hamba-Nya. Sufyan as-Tsauri bertemu d...

Al Hikam Maqolah 88

Alhikam Maqolah 88 Syech Ibnu Athoillah dawuh : ٨٨- مَنْ عَبَدَهُ لِشَيْءٍ يَرْجُوْهُ مِنْهُ أوْ لِيَدْفَعَ بِطَاعَتِهِ وُرُوْدَ الْعُقُوْبَةِ عَنْهُ فَمَا قَامَ بِحَقِّ أَوْصَافِهِ. "Barang siapa menyembah Allah karena mengharap sesuatu, atau untuk menolak siksa atas dirinya, maka dia belum menunaikan kewajiban terhadap sifat sifat Allah." -------++++++++ Sebagai hamba Allah kita wajib menghamba dan beribadah hanya kepada-Nya, yg kita tuju juga hanya Allah, bukan karena pahala surga-Nya, atau siksa neraka-Nya. Allah telah menurunkan wahyu pada Nabi Dawud Dalam kitab zabur disebutkan: Tidak ada yang lebih dholim dari orang yang menyembah-Ku karena surga atau neraka, seandainya saya tidak membuat surga atau neraka, apa Saya (Alloh) tidak berhak untuk disembah? Rosululloh Saw. dawuh: Janganlah menjadi seorang hamba yang buruk ,jika takut , baru mau bekerja/beribadah. Dan jangan menjadi tukang yg buruk, jika tidak di bayar tidak bekerja. Sebab sebenarnya Anugerah All...

Alhikam Maqolah 86

Alhikam Maqolah 86 Syekh Ibnu Athoillah dawuh : ٨٦- كَفَى مِنْ جَزَائِهِ اِيَّاكَ عَلَى الطَّاعَةِ اَنْ رَضِيَكَ لَهَا اَهْلاً٠ " "Cukup Allah yang memberi pahala karena ketaatanmu, karena ia telah rida kepadamu sebagai ahli ibadah." ---------+++++++++ Inilah karunia besar dari Allah kepada hamba-hamba-Nya yang ahli ibadah. Hamba yang mendahulukan Allah swt dari kepentingan duniawinya. Selain itu, ketaatan kepada Allah dengan tulus dan tekun itu sendiri sudah menjadi suatu kenikmatan bagi si hamba,dan kenikmatan itulah pahala dan rahmat yang besar bagi si hamba yang saleh. Seorang hamba Allah yang saleh dan taqarrub kepada-Nya sudah menerima rahmat dari-Nya. Sebab, kalau tidak karena rahmat dan hidayah-Nya, tidak seorang pun yang dapat mengerjakan amal ibadah dengan tekun dan hati tulus ikhlas. Mereka mendapatkan kebahagiaan yang tak terhingga, seketika di saat mereka menjalani ibadah itu, tanpa menunggu balasan di akhirat.

Alhikam Maqolah 85

Alhikam Maqolah 85 Syech Ibnu Athoillah dawuh : ٨٥-جَلَّ رَبُّنَا اَنْ يُعَامِلَهُ الْعَبْدُ نَقْدًا فَيُجَازِيْهِ نَسِيْئَةً “Maha Agung Allah Tuhan kami, apabila seorang hamba beramal kontan didunia, dan Alloh membalasnya kelak di akhirat." --------+++++++++ Pembalasan pahala dari Allah kepada para hamba-Nya, tidak diperoleh kelak di negeri akhirat saja. Akan tetapi Allah swt secara tunai dapat membalasnya langsung di dunia ini juga, terutama untuk para hamba Allah yang saleh dan sangat dekat dengan Allah (para Waliyullah) dengan anugerah dan keagungan Allah mengizinkan memperoleh pembalasan pahala sebagai rahmat dunia. Semua ini adalah karena dekatnya seorang hamba dengan Tuhannya. Ia mendapat kehormatan untuk menerima rahmat dan anugerah Allah di dunia ini juga dan kelak akan memperolehnya berlipat ganda di akhirat. Bagi seorang hamba Allah yang saleh, ia merasa bersyukur dan berbahagia apabila di dunia ini ia dapat menerima anugerah Allah, berupa kesempatan beri...

Alhikam Maqolah 87

Alhikam Maqolah 86 Syekh Ibnu Athoillah dawuh : ٨٦- كَفَى مِنْ جَزَائِهِ اِيَّاكَ عَلَى الطَّاعَةِ اَنْ رَضِيَكَ لَهَا اَهْلاً٠ " "Cukup Allah yang memberi pahala karena ketaatanmu, karena ia telah rida kepadamu sebagai ahli ibadah." ---------+++++++++ Inilah karunia besar dari Allah kepada hamba-hamba-Nya yang ahli ibadah. Hamba yang mendahulukan Allah swt dari kepentingan duniawinya. Selain itu, ketaatan kepada Allah dengan tulus dan tekun itu sendiri sudah menjadi suatu kenikmatan bagi si hamba,dan kenikmatan itulah pahala dan rahmat yang besar bagi si hamba yang saleh. Seorang hamba Allah yang saleh dan taqarrub kepada-Nya sudah menerima rahmat dari-Nya. Sebab, kalau tidak karena rahmat dan hidayah-Nya, tidak seorang pun yang dapat mengerjakan amal ibadah dengan tekun dan hati tulus ikhlas. Mereka mendapatkan kebahagiaan yang tak terhingga, seketika di saat mereka menjalani ibadah itu, tanpa menunggu balasan di akhirat.

Syair Maulid Nabi Muhammad saw

Syair Nabi Muhammad saw di bawah ini merupakan karya K.H M. Djamaluddin Ahmad yg berisi tentang sejarah Nabi Muhammad saw adapun syiirnya adalah sebagai berikut : sedangkan file dapat di download di link do bawah ini : Klik

Alhikam Maqolah 84

Alhikam Maqolah 84 Syech Ibnu Athoillah dawuh : ٨٤- العَطَاء مِنَ الخَلقِ حِرْماَنٌ والمنْعُ من اللهِ اِحْسانٌ "Pemberian dari makhluk itu suatu kerugian (penghalang), dan pencegahan dari Allah itu suatu pemberian kebaikan dan karunia." -----+++++++" Hikmah ini merupakan ucapan ahli tauhid yg sebenarnya. Orang yang benar² bertauhid menganggap bahwa sekiranya mereka menerima persembahan makhluk sedangkan hatinya tidak melihat bahwa persembahan itu sebenarnya dari Allah, maka dia menerima persembahan itu sebagai suatu kerugian. Sedangkan penolakan Allah atas permintaanmu itu hakikatnya suatu pemberian dan anugrah dari Allah, karena Allah menempatkan kamu di pintu Rahmat-Nya dan menyelamatkan kamu dari halangan dengan-Nya. Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw. bersabda: Jangan merasa adanya yang memberi nikmat kepadamu selain Allah, dan anggaplah segala nikmat yang kamu terima dari selain Allah sebagai kerugian. (yakni: di antara engkau dengan Allah tidak ada perantara, ma...